Benarkah pendidikan berlangsung seumur hidup?

Pendidikan ... jelas berlangsung seumur hidup. Selama hidup, sejak Allah SWT meniupkan Roh kepada janin, hingga seseorang akan masuk ke liang kubur, pendidikan selalu menyertai. Karena, pada dasarnya pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Ini adalah keyakinan yang diajarkan oleh John Dewey: "Education is not preparation for life; education is life itself."

Anda tidak percaya? Apakah Anda tidak merasakannya? Sebagai contoh, seorang bayi yang belum dapat merangkak dibiarkan beberapa saat di suatu tempat. Kemudian anak itu tampak merasa tidak aman. Mungkin ada semut, atau disitu dia kepanasan. Sebenarnya bayi itu sudah saatnya merangkak. Eh bayi tengkurap, tangan dan kakinya bergerak-gerak, kepalanya nengok ke kiri dan ke kanan. Karena tidak ada orang, dia tahu-tahu merangkak. Siapa yang mengajarinya? Hidupnya telah mendidiknya.

Bagaimanapun pendidikan yang spontanitas itu tidak optimal. Oleh sebab itulah, untuk mengoptimalkan pendidikan, orang berusaha mengadakan berbagai macam pendidikan, mulai dari pendidikan janin yang terkenal sebagai pendidikan pralahir atau prenatal.

Nah selama hidup, sebaiknyalah kita selalu belajar, agar hidup ini menjadi lebih baik. Sebagai guru, tak kurang-kurangnya kita belajar, agar modal kita untuk mengajar sesuai dengan keperluan peningkatan pembelajaran terhadap anak didik kita. Dewasa ini kita ditugasi untuk menyusun persiapan mengajar dari pemetaan standar kompetensi dan kompetensi dasar, penyusunan silabus KTSP, RPP berkarakter, termasuk bank soal dan sebagainya.

Sekarang coba kita ingat-ingat kembali sewaktu kecil. Kita belajar berjalan dan bicara. Siapapun yang menjadi gurunya, proses belajar berlangsung terus. Mungkinkah belajar  dari si kecil itu alami? Maksudnya spontanitas belajar sendiri? Seperti contoh di atas tentang bayi yang merangkak tiba-tiba. 

Nah bagaimana dengan janin dalam kandungan seorang ibu? Apakah terjadi pula proses belajar? Anda ragu? Mengapa Anda ragu? Tidak mungkinkah proses belajar terjadi pada janin? Seorang ibu mengatakan bahwa janinnya tambah besar, suatu saat ibu itu menjelaskan ke suaminya kalau janinnya sedang belajar. Sang suami manggut-manggut, namun sambil tersenyum tampak ragu akan pernyataan istrinya. Si istri tanggap, kemudian tangan sang suami ditempelkan ke perutnya. Suaminya ketawa-tawa, kemudian terkejut dan berkata bahwa dia ditendang oleh si janin. Apakah ini berarti bahwa si janin merasakan bahwa itu tangan ayahnya yang tidak percaya bahwa dia sedang belajar? Eh ... mungkin dia ingin mendukung pernyataan ibunya, ditendangnya tangan si ayah. Ha .. ha .. ha. Benarkah itu?

Seorang nenek geleng-geleng ketika si kakek menawari sesuatu, walaupun si kakek menjelaskannya dengan serius sampai manggut-manggut. Kemudian si nenek merespon dengan senyum dan dengan hati-hati memberi penjelasan pada si kakek. Apakah dalam ha ini terjadi proses belajar? Benarkah si nenek belajar untuk memahami penjelasan si kakek? Apakah demikian pula yang terjadi pada si kakek?

Sudah percayakah Anda bahwa pendidikan terjadi sejak janin hingga mau masuk ke liang kubur? Masih banyak contoh-contoh lain untuk menguatkan argumen di atas.


Komentar :

No Komen : 3
romana dwi oktavia XII-Ia3 :: 25-08-2011 23:31:10
saya sangat setuju dengan kalimat "pendidikan berlangsung seumur hidup". karena orang hidup itu untuk berilmu dan beriman. selama kita masih hidup dan otak kita masih mampu berpikir, rasanya kita tidak akan menyesal jika kita gunakan untuk mencari ilmu. mencari ilmu tidak harus di sekolah. dimanapun ilmu itu ada. ilmu yang kita dapat pasti akan mempunyai manfaat. merugilah orang yang mempunyai umur panjang tetapi tidak di gunakan untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. karena ilmu merupakan bekal kita untuk melanjutkan hidup selama kita masih ada di dunia.
:: Reply ::

Yes, correct, so do it, for you and ask others which are closed with you to do the same. Thx.

No Komen : 2
Atina Ilma XII IPA 3 :: 24-08-2011 16:02:35
Saya setuju dg statemen 'pendidikan berlangsung seumur hidup'. Menurut saya, seorang manusia menjalani hidupnya sembari belajar. Ketika mengalami kegagalan, manusia akan belajar untuk mengalahkan kegagalan itu, atau bahkan belajar untuk menerima kekalahannya.
Saat seorang remaja jatuh cinta, dia secara otomatis juga akan belajar menyiapkan hatinya untuk menerima kemungkinan terburuk: patah hati.
Jadi, secara tidak sadar, manusia selalu belajar pada kehidupan, dalam bentuk 'materi pembelajaran di sekolah' maupun dlm bentuk lainnya, termasuk belajar dlm masalah hati. Hehehe maaf bu, ujung-ujungnya bawa-bawa soal asmara :p
:: Reply ::

Oh no problem, dear. That was a good example. Iya, benar, bahkan dapat dikatakan, kita ini belajar disetiap hembusan nafas. Bangun tidur, ambil handuk eh kotor, berpikir sejenak, etrus ambil handuk bersih. Itu sedah belajar kan? Handuk kotor kalau tetap kupakai, walaupun tidak ada semutnya, namun kotoran debu atau pembusukan bekas kotoran kemarin, eh malah nempel dipermukaan kulitku. Kalau kugosok kekulit, eh malah masuk kepori-pori kulit. Wah ga sehat nih. Makanya kulitku suka gatal-gatal. Dstnya. Walaupun hal ini dipikir hanya sebentar, namun proses berpikir yang bermakna itu belajar lho. Terima kasih ya Allah, para pengunjung ini, khususnya anak-anak bangsa tidak hanya belajar kimia disini, ternyata mereka belajar jauh melebihi yang hampa perkirakan.

No Komen : 1
Anggita Tyas R (03) XII IPA 3 :: 24-08-2011 15:29:46
contoh pendidikan sejak janin di dalam kandungan yaitu saat ibu hamil diputarkan lagu klasik di dekatkan di kandungannya akan membuat si bayi tenang dan biasanya sang bayi akan merspon dngan cara bergerak karena lagu lagu klasik yang didekatkan ke perut sang ibu berpengaruh pada sang janin hehe
:: Reply ::

Iya sayang, itu benar. Bahkan jika sang ibu mendekatkan foto binatang atau lainnya sambil menyebut nama binatang itu, eh setelah saatnya dia bicara, cepat sekali menyebut nama binatang tersebut, melihat gambar saja dia mampu menyebut namanya. Mengapa? karena sudah memiliki mind mapping yang diajarkan sejak janin. Bahkan ini lengketnya minta ampun, dibanding kita baru mendengar sesuatu, eh tidak berapa lama ditanya, sudah lupa. Hehehe. Ayo kita sosialisasikan. Thx komentarnya.

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]