Terima kasih Ayah

Hari ini aku dan Hesty telah resmi menikah. Hesty memeluk ibu dan menangis, begitu pula ibu. Bapak tidur dengan pulas dan tampak tersenyum bahagia. Mungkin beliau merasa sudah melaksanakan tugas dengan baik. Aku masih tak percaya dengan kejadian yang kualami ini. Dalam kebimbangan yang membuatku amat galau, bapak mendadak masuk RS dan dokter menyatakan sakit bapak cukup parah. Serangan jantung dan kemungkinan bapak berada di RS berbulan-bulan dan bisa meninggal kapan saja. Oleh sebab itulah semua permintaan bapak tak bisa kutolak.

Kulihat bapak masih tidur, Ibu dan Hesty sepertinya sedang sibuk berunding. Saat sendiri begini, pikiranku kembali ingat pada Titi. Siapakah Titi? Kalau Titi bukan Hesty, dan Titi tahu kalau akan dinikahkan denganku, kasihan juga dia. Ayah, aku merasa bertanggung jawab untuk tetap mencari tahu siapa Titi dan di mana dia sekarang. Aku harus segera menceritakannya pada Hesty. Kalau bapak sudah siuman, aku akan bertanya tentang Titi.

***

Malam ini Ibu kuantar pulang, sekalian aku mengambil beberapa pakaian, karena aku dan Hesty akan menjaga bapak.

"Ibu, maaf ya sementara ini ibu tinggal sendiri."

"Tidak apa-apa Wan, toh suatu saat ibu akan sendiri."

"Ibu ... maafkan saya."

Aku mencium telapak tangan ibu dan akhirnya kudekap ibu, kami berdua menangis. Sebenarnya aku sedang bingung, karena tak tega membiarkan ibu sendiri. Andaikan bapak Hesty sudah sembuh benar, mungkin aku dan Hesty bisa tinggal bersama ibu. Ehmm ... lagi-lagi aku merenung.

"Wan ...."

"Oh ya bu, ada apa?"

"Sekalian foto keluarga pak Sugianto masukkan ke tasmu. Suatu saat tunjukkan foto itu ke Hesty dan bapaknya. Eh siapa nama beliau? Pak Subianto ya?"

""Iya benar bu. Insya Allah Hesty itu Titi ya Bu. Nama bapaknya mirip, hehehe."

"Iya ibupun menduga begitu. Apalagi ayahmu selalu senyum, rasanya kok begitu ya."

"Iya Bu sama, ayah juga selalu menunjukkan senyumnya padaku. Penasaran Bu, segera setelah bapak siuman, saya akan mencari waktu yang tepat untuk menunjukkan foto ini."

HPku berdering.

"Wan HPmu, barangkali Hesty ...."

"Iya Bu, ini Hesty, saya jadi khawatir Bu."

"Sudahlah, cepat terimalah tilpunnya."

"Ya, ada apa sayang?"

"Bapak sudah siuman? Alhamdulillah ... ya ya aku segera ke RS."

"Iya, nih aku membawa beberapa pakaian."

Bapak sudah sadar dan Hesty bilang wajah bapak makin segar. Sekarang sedang makan bubur. Insya Allah bapak segera sembuh dan dapat pulang ke rumah lagi. Berarti kemungkinan besar aku dapat mulai bekerja lagi. Oh ya sebaiknya laptop ku bawa saja.

"Gimana Wan kabar pak Subianto?"

"Oh alhamdulillah Bu, sudah siuman dan makin segar tampaknya. Sekarang sedang makan bubur."

"Alhamdulillah. Segera berangkatlah Wan."

Aku sudah siap dan kucium tangan Ibu.

"Mohon doanya Bu, saya pamit ya."

"Iya sayang, doaku selalu menyertaimu."

Aku bergegas pergi. Jalanan agak sepi, lumayanlah aku bisa segera sampai. Aku ingin menunjukkan foto keluarga Titi, Insya Allah Titi adalah Hesty. Andaikan bukan, ehmm ... semoga saja Titi dapat menerima kenyataan ini.

***

Setelah memarkir motor, aku berlari kecil menuju kamar bapak. Insya Allah hari ini tanda tanya yang sangat mengganggu ini dapat segera berakhir. Sambil terengah-engah, ku buka pintu kamar bapak. Oh Hesty masih menyuapi bapak. Aku tak boleh lupa, aku harus siap setiap saat. Begitu bapak kelihatan santai, tenang, aku harus menunjukkan foto itu.

"Sudah, bapak kenyang."

Terdengar suara bapak dan Hesty berhenti menyuapi bapak. Segera kuambil air minum, kuminumkan ke bapak. Bapak hanya minum sedikit, kemudian ditatapnya wajahku.

"Kau sudah balik nak."

"Oh sudah pak. Bagaimana keadaan bapak?"

"Ya alhamdulillah sudah terasa baikan tetapi masih agak lemas."

 "Bapak harus banyak istirahat. Makan pelan-pelan saja tidak apa-apa."

"Iya nak, terima kasih. Sebenarnya ada yang ingin bapak ceritakan kepada kalian berdua, mungkin nanti malam, sekarang bapak ingin istirahat dulu."

"Iya pak, sebaiknya begitu. Saya duduk di luar ya."

"Iya nak, silakan. Hesty, duduklah di luar, santai. Bapak istirahat, tidak perlu ditunggu."

Kami berdua duduk di kursi di depan kamar bapak. Pikiranku terus berkisar tentang Titi, sampai lupa kalau di sebelahku ada Hesty. Aku terkejut ketika dia menegurku, namun aku berpura-pura tenang.

"Mas sepertinya ada yang dipikirkan ya? Memikirkan Titi?"

"Ehmm ... kok kau tahu nama Titi Dik?"

"Mas ini bagaimana, kan dulu mas pernah bertanya apa dulu aku dipanggil Titi, lupa ya mas. Mengapa mas bertanya seperti itu? Apakah mas memang sedang mencari gadis bernama Titi? Siapakah Titi itu?"

Waduh gimana nih, pertanyaan Hesty bertubi-tubi. Tak mungkin bagiku untuk menjelaskan sekarang, namun aku juga tak mungkin berbohong atau menghindar. Sungguh bingung aku, bagaimana cara mengatakannya. Ya Allah, tolonglah hamba. Bibirku terasa kaku sekali tak bisa digerakkan, debaran jantungku bertambah cepat. 

"Kok bingung mas, ceritakan padaku barangkali aku bisa membantu. Pertama mengapa kau mengira aku Titi. Mungkinkah dulu ayah dan ibu memanggilku Titi? Bapak tentu tahu mas, nanti kutanyakan. Lho kau tampak cemas sekali, mengapa? Sebentar kuambilkan air minum."

Segera kuraih tangannya agar tak mengambil air minum. Maksudku, ku akan tunjukkan kalau aku tak apa-apa. Eh ... dia sudah berdiri dan bergerak, tangannya gagal kuraih. Ku bergegas untuk berdiri ... ya ampun, badanku lemas dan .... aku jatuh.

Ketika siuman, aku berbaring di tempat tidur dan Hesty menemaniku. Ku tengok kiri kanan, ya ampun, aku berada di sebuah kamar di rumah sakit. Hesty sampai tertidur, kasihan dia. Bagaimana dengan bapak? Waduh aku yang keterlaluan, Hesty memilih untuk menungguku dibanding bapak. Mengapa aku sampai begini? Kuingat-ingat ... oh ya ketika itu aku duduk di luar ruang kamar bapak berdua Hesty. Aku terlalu memikirkan Titi hingga ketahuan Hesty. Pertanyaannya begitu bertubi-tubi sehingga ku tak tahu bagaimana menjawabnya. Ehm ... katanya aku tampak cemas dan ternyata badanku memang lemas, akhirnya aku jatuh pingsan ketika meraih tangannya. Ya ya ... aku ingat semuanya. Mungkin aku lelah, karena kurang tidur. Bisa jadi; namun aku keterlaluan sekali sampai begini. Malu juga, terutama pada bapak.

"Mas, bagaimana rasanya? Pusingkah?"

"Oh tidak ... tidak apa-apa. Maaf ya ...."

Aku berusaha turun dari tempat tidur, tetapi ... ah, kepalaku pusing sekali. Aku bisa jatuh lagi. Daripada malu, ya sudah aku duduk saja. Lho kok ... aku tidak kuat duduk ya, waduh mengapa aku ini? Ya Allah, sakit apa hamba?

"Mas, rebahan dahulu, mungkin mas masih lemas. Kata dokter sepertinya mas terlalu capek, tadi disuntik vitamin. Nih makanan dari rumah sakit di makan sekarang saja."

"Iya iya dik, maaf badanku terasa lemas sekali. Mungkin setelah makan aku akan kuat kembali ya. Bagaimana bapak? Siapa yang menunggu beliau?"

"Maafkan aku mas. Tadi aku bingung melihat mas pingsan terus diperiksa dan disuntik oleh dokter. Aku telpon ibu dan sekarang ibu sedang berada di kamar bapak."

"Oh ya sudah tidak apa-apa, kau benar dik dan tak perlu minta maaf. Setelah makan dan aku bisa jalan, antar ke kamar bapak ya."

Hesty mengangguk tanda setuju. Dia terus menyuapiku sampai bubur di mangkok itu habis ludes, hehehe berarti aku kelaparan. Wah dokternya mungkin mau mengatakan kalau asupanku kurang, hehehe malu-maluin nih. Aku bergerak perlahan dan duduk di tepi tempat tidur. Alhamdulillah sudah tidak pusing. Sugesti nih, masak baru saja makan bubur sudah berproses. Hehehe makanannya saja masih berada di lambung. Ya tentunya setelah beberapa jam baru sari makan itu bisa masuk ke darah. Walah walah, kok jadi ingat pelajaran biologi dari bu guruku yang cantik.

"Mas kok melamun lagi."

"Oh maaf. Aku kelihatan melamun?"

"Lha terus dari tadi mas sedang apa?"

"Hehehe iya sedang melamun. Ingat bu guru biologiku. Baru makan kok sudah merasa kuat."

Kami berdua tertawa gembira. Rasanya aku makin segar, ehmm ... aku harus segera ke bapak dan menunjukkan foto keluarga Titi. Lebih cepat lebih baik, ya ... ibu juga sudah berada di sana. Insya Allah bapak cepat sembuh agar kami bisa segera pulang. Aku berusaha turun, hehehe alhamdulillah aku bisa, kesehatanku sudah pulih. Semangat, semangat.

"Ayo dik, kita ke sana."

Hesty menuntunku hingga sampai ke kamar bapak. Sebenarnya aku malu sekali dituntun seperti ini. Namun asyik juga sih.

"Dik sudah lepaskan tanganmu, aku bisa kok. Nanti aku malu dilihat bapak dan ibu."

Dengan senyumnya yang khas, Hesty melepaskan pegangannya, sambil mencubit pinggangku.

"Eh dik, nanti aku jatuh lho, hehehe."

Sampai di dalam, kulihat bapak sedang duduk di pinggir tempat tidur dan ibu duduk di kursi berdekatan dengan bapak. Beliau berdua senyum dan tampaknya sedang membicarakan sesuatu. Ibu sedang memegang beberapa foto. Hah? foto apa itu? Kuraba sakuku, foto Titi masih ada. Begitu melihatku, ibu berdiri dan berjalan mendekatiku, kemudian mendekapku. Beliau meneteskan airmata. Ada apa ya? Apa karena aku pingsan tadi?

"Bu, mengapa ibu menangis? Aku hanya kelelahan dan terlambat makan. Aku tidak apa-apa bu."

"Ehmm ... yaya Wan, kau tak apa-apa, ibu bahagia sekali. Ayo duduk dulu ada yang mau ibu tunjukkan padamu."

Kucium tangan bapak dan kami duduk di dekat bapak. Tampaknya bapak dan ibu gembira sekali. Kulirik Hesty juga sedang terheran-heran melihat beliau berdua.

"Bapak sudah sembuh? Kita bisa segera pulang? Ibu, apa kata dokter tadi?"

"Ya wan, tadi dokter telah mengijinkan bapak pulang dan mendapat obat jalan. Namun setiap bulan harus kontrol." jawab ibu.

Aku lega sekali mendengarnya dan segera berdiri. Kuingin ke bagian administrasi untuk menyelesaikan pembayaran agar bisa segera pulang. Namun ibu melarangku dan meminta aku tetap duduk.

"Wan jangan pergi dulu, ini ibu mau menunjukkan beberapa foto padamu."

"Foto siapa ini bu?"

Lihat dulu semuanya."

Foto ini sama dengan foto yang kusimpan. Foto yang ini, hah? Ini kan pak Sugianto dan ini bapak. Foto ini, bapak dan Hesty waktu kecil, dan ini bapak dan Hesty di rumah ini. Hesty sudah besar, ini foto Hesty yang sekarang. Apa maksudnya? Hah? Tadi Bapak dan pak Sugianto kan foto bersama, apa artinya? Siapa Hesty dan siapa Titi?

"Ibu, bapak, apa artinya ini?"

"Wan, apa yang sedang kau pikirkan? Menurutmu apa artinya foto itu?"

"Apa bapak mengenal pak Sugianto?"

"Ya nak Wawan, kenal sekali."

"Siapakah pak Sugianto itu? Dimanakah sekarang putri pak Sugianto yang bernama Titi?"

Bapak dan ibu tersenyum. Wah ... aku tambah penasaran. Apa artinya bahwa Titi itu Hesty? Benarkah itu? Apa rahasia itu telah terungkap? Inikah arti senyum ayahku? Aku mendadak amat bahagia dan ... ya ampun foto-foto itu terlepas dari tanganku dan ... waduh badanku lemas sekali. Aku ... aku kenapa ini?

***

Ketika aku membuka mata, semua orang di sekitarku tersenyum dan tertawa gembira. Aku malu sekali, ternyata aku tadi pingsan dan ... ya ampun aku direbahkan di tempat tidur bapak dan bapak, ibu, Hesty pada duduk di kursi. Hesty tampak bahagia sekali. Dia berdiri, mendekatiku, kemudian menciumku.

"Kok mas pingsan lagi? Hehehe."

Semua tertawa bahkan Hesty sampai terpingkal.

"Dik, mengapa kau tertawa sampai terpingkal? Aku malu sekali lho."

Aku berdiri dan mau membayar biaya perawatan bapak.

"Kemana mas? Ayo kita sama-sama saja. Bapak sudah boleh pulang kok dan semua barang sudah disiapkan, tinggal nunggu mas siuman."

"Hah? Oh ... maafkan saya bapak."

Mereka cuma tersenyum. Kami berjalan keluar kamar dan pulang ke rumah Hesty. Di dalam taksi aku bertanya kepada bapak.

"Bapak adiknya pak Sugianto kah?"

Bapak hanya menganggukkan kepala.

"Dimanakah sekarang putri pak Sugianto?"

"Ehmm ... dia sudah menikah, baru saja."

"Alhamdulillah, saya turut senang pak."

Berarti aku tak memiliki beban lagi dan tak merasa bersalah kepada Titi. Dia sudah menikah. Terima kasih ya Allah. Tiba-tiba semua tertawa terpingkal-pingkal. Ada apa sih? Apa sikapku lucu?

"Ada apa semua tertawa seperti itu?"

Titi tak tahan melihatku. Didekapnya aku dan dia berkata lirih, sehingga aku hampir tak mendengarnya.

"Aku Titi mas."

Ya Allah, dia Titi? Alhamdulillah, terima kasih. ehmm ... ehm ..., makanya ayah selalu menunjukkan senyumnya padaku. Mengapa hal ini tak segera kuketahui sejak dulu? Mengapa selama ini aku bingung mencari tahu tentang Titi? Ya semua ada hikmahnya. Memang jalannya harus seperti ini. Allahu Akbar.

The End

 

 


Komentar :

No Komen : 2
taruhan bola :: 07-06-2016 18:57:43
Aku mencium telapak tangan ibu dan akhirnya kudekap ibu, kami berdua menangis
 
No Komen : 1
cara pemasaran produk online yang efektif :: 07-01-2014 04:42:19
s
 
Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]