Renunganku pada HUT RI ke 67
Negaraku, kuucapkan "Selamat Hari Ulang Tahun ke 67." Insya Allah sejak hari ini dan seterusnya, kami bangsa Indonesia, baik generasi dewasa (senior, purna tugas, dsb.nya), generasi penerus (generasi muda), maupun generasi yang saat ini sedang dipersiapkan menjadi generasi emas (usia dini), mampu menyumbangkan tenaga dan pikiran demi kemajuanmu. Begitu pula sebagian dari kami yang telah berpartisipasi aktif dalam membangun bangsa dan negara ini Insya Allah tetap terus melaksanakan tugas yang amat mulia ini.
Wahai bangsaku, menurut teori belajar, bagi setiap individu yang memperoleh kesempatan belajar secara rutin, diharapkan pada usia 67 tahun telah mampu mengamalkan ilmu pengetahuan dan keterampilannya dengan karakter yang terpuji kepada bangsanya. Seseorang yang telah mencapai usia ini umumnya sangat mapan dan memiliki pengalaman hidup yang begitu banyak. Apabila orang tersebut menyadari bahwa pengalaman merupakan guru yang terbaik, maka tentulah orang yang bersangkutan selalu meningkatkan diri terus menerus hingga menjadi pribadi unggul.
Berbicara tentang pendidikan, setiap individu yang telah memahaminya tentulah menyadari bahwa pendidikan itu dapat terjadi dimana saja, kapan saja, dari dan oleh siapa saja. Dengan kata lain "Long life education" atau "Pendidikan seumur hidup" ini, terjadi sejak janin yang masih berada di kandungan seorang ibu hingga seseorang akan memasuki liang kubur.
Sekarang marilah merenung sejenak tentang bagaimana keadaan bangsa kita saat ini. Sudahkah kita sebagai bangsa Indonesia melakukan peningkatan diri dan mensosialisasikan dan mengaplikasikan kemampuan dan keterampilan kepada bangsa agar bersama kita dapat menjadi pribadi unggul? Atau paling tidak, sudahkah kita menyisihkan waktu untuk ikut meningkatkan pendidikan bangsa, sehingga bangsa kita mampu menyiapkan diri menghadapi tantangan hidup sesuai lingkungan dimana mereka berada?
Ketika berpikir tentang bangsa, kita sempitkan saja, yaitu bangsa yang kita maksudkan adalah diri sendiri dan istri/suami, anak, serta saudara kita. Nah, sudahkah kita melaksanakan pendidikan seumur hidup di dalam keluarga, dimulai dari mendidik diri sendiri untuk menjadi pribadi yang dapat diteladani? Sudahkah pendidikan kita lakukan sejak dini secara rutin, pagi, siang, sore, bahkan malam? Sudahkah kita memperhatikan pendidikan dalam segala aspek kehidupan? Misalnya pola makan, tidur, sopan santun, menimba ilmu dan cara mempraktikkannya, serta pembelajaran apapun yang terkait untuk menjadi pribadi mandiri yang siap mendarma-baktikan hidupnya bagi bangsa dan negara?
Lihatlah hasil dari pendidikan yang kita lakukan. Bagaimanakah hasilnya? Bagaimanakah anak-anak kita? Cukupkah modal pendidikan dari rumah sebagai dasar menghadapi pendidikan di sekolah dan di masyarakat? Apakah kita termasuk kelompok sukses? Sangat sukses? Atau kita belum mampu seperti kelompok yang sukses?
Ketika hasil segala jenis pendidikan selama ini kita lihat secara keseluruhan pada bangsa Indonesia, apa yang dapat kita katakan? Sebagian bangsa kita amat memuaskan, ya ... kita dapat mengikuti perkembangan informasinya melalui berbagai media masa. OKlah. Sekarang dari media masa pula, apa yang sebenarnya sedang terjadi di Indonesia? Banyak kejadian dan bervariasi. Bagaimana gambaran keberhasilan pendidikan bangsa? Belum optimalkah? Ya, jelas belum. Adakah orang yang mengatakan belum/tidak berhasil? Ada dan banyak. Mengapa begitu? Karena masih banyak individu yang lupa diri bahwa mereka terdidik menjadi pribadi handal, namun saat melihat adanya suatu kesempatan untuk berbuat negatif, lupa bahwa setiap saat harus bertindak positif. Mengapa positif mudah dikalahkan oleh negatif? Andaikan listrik, positif itu memiliki sikap tenang dan lebih suka berdiam diri. Sedangkan negatif sangat senang bergerak bahkan larinya cepat, ringan sekali sehingga mampu menembus apapun.
Demikianlah secuil renungan yang dapat kutulis sebagai motivasi diri untuk memulai lagi dari titik nol dalam keikut sertaan memberikan layanan pendidikan seumur hidup bagi bangsa Indonesia. Walau di umur purna tugas sebagai pegawai negeri, namun tugas sebagai guru seumur hidup Insya Allah tak akan purna oleh apapun. Semoga para aparat negara pada hari ini juga menyadari pentingnya genjotan partisipasi sesuai dengan tugas mulia yang diemban agar KKN dan sejenisnya dapat segera lenyap dari bumi Indonesia ini. Harapan kami rakyat Indonesia, semoga negara ini dapat melejit sejajar dengan negara-negara terbaik dan termaju di dunia ini. Wahai bangsaku yang memiliki harapan setinggi langit, marilah bersama kita raih cita-cita itu. Berjuang dan Berdoa adalah milik orang-orang yang sukses. Please sharing and growing together, to do the best and to be the best. Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Amin, Amin, ya Robal 'alamin.
Komentar :
|
No Komen : 3 Fina Putri :: 18-11-2012 23:00:45 |
| Setuju sama Trisna. Bapak Muh. Nuh pernah berkata bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar. Besar karena beragam budaya, beragam suku, beragam agama, sumberdaya yang sangat melimpah namun belum terjamah, pertumbuhan ekonomi kian pesat menurut laporan Mc.Kinsey dan sejarah bangsa yang amat panjang, peninggalan sejarah tak ternilai, potensi alam melimpah ruah. Namun sayangnya kita sebagai generasi Indonesia mengeksploitasi demi kepentingan pribadi dan memperkaya diri sendiri. Padahal negeri ini bisa maju jika saja moralitas pemimpin dan masyarakat tertata dan dijunjung tinggi. Belum lagi, Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang dengan tegas menyatakan bahwa pancasila adalah dasar negara yang utama, bukan komunis atau liberalis. Selain akhlaq dan moralitas, pendidikan harusnya juga menjadi aspek penting dalam tujuan membangun negeri. Tidak hanya dibangun gedung sekolah lengkap hingga ke pelosok desa, melainkan bagaimana caranya pendidikan mampu mendidik karakter manusia pancasilais yang berilmu bagi generasi Indonesia di masa yang akan datang. Kita harusnya sadar bahwa bangsa ini perlu berbenah dalam perjuangan melawan diskriminasi dan korupsi yang membudaya. Yang seharusnya kita lakukan adalah dimulai dari membangun karakter pancasila dalam diri kita sendiri seperti apa yang telah diajarkan oleh para pejuang kita untuk terus mempertahankan Indonesia hingga akhir hayat, bukan malah ikut merusak bangsa. Bngsa ini pernah menjadi bangsa yang besar dan terpandang di mata dunia. Mengapa tidak kita bangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar seperti dahulu? |
|
:: Reply :: Yayaya sayang, education is our life, and all of us know about long life education. I do not understand, why many people did like that? What kind od education they had learnt? Sayang seribu sayang, mereka tega merusak bangsa sendiri. Fisiknya saja mereka itu sebangsa dengan kita, namun hati dan jiwanya, darimanakah asalnya? Apakah dari luar angkasa? Kita tidak boleh terkecoh oleh bualannya, kita harus tetap ikut membangun bangsa dan negara pada setiap langkah kita, sampai akhir hayat. Always do the best and be the best dear. |
|
No Komen : 2 Tri Sutrisno Nusantara :: 18-08-2012 11:22:50 |
| Menurut saya, bangsa ini sudah sepatutnya berbenah dari pengalaman di masa lalu. Namun sangat disayangkan bangsa ini telah melupakan sejarah dari proses terbentuknya negara Indonesia ini dari belum merdeka sampai berhasil memperoleh kemerdekaan. Indonesia butuh generasi baru yang bisa memperbaiki bangsa ini berdasarkan pengalaman di masa lampau. Untuk mencapai hal tersebut butuh penguatan di pendidikan moral dan keagamaan. Apabila pendidikan moral dan keagamaan sudah ditanamkan sejak kecil, segala perbuatan dan perilakunya diabdikan untuk Tuhan dan negaranya. Sehingga dengan hal tersebut bisa menguatkan semangat para generasi baru kedepannya. Semoga di HUT ke-67 RI ini kita sudah mulai menyusun dan mengumpulkan segala tenaga dan upaya untuk merubah bangsa ini menjadi lebih baik di masa depan. Harapannya di masa yang akan datang, negara kita mampu menjadi negara adidaya yang berakhlak mulia sehingga dapat menjadi panutan bagi seluruh dunia. |
|
:: Reply :: Menjadi panutan negara lain? Amin, tinggi sekali harapanmu sayang, seperti perjuangan belajarmu yg begitu gigih selama ini. Tentulah cita-citamu setinggi harapanmu pada negara kita ini. Ibu sangat mendukungmu dengan doa dan ikut serta berpartisipasi aktif untuk menyiapkan generasi penerus tersebut. Tentunya bagimu perjuangan meraih sukses adalah prima. Jika semua generasi muda sepertimu, Insya Allah Indonesia akan melejit dan harapanmu segera terwujud sayang. Ibu bangga padamu, tak mungkin kau hanya berharap saja. Ayo bersama kita ikut mewujudkannya. Thx, doaku selalu menyertaimu, jangan putuskan silahturahmi ini, walau kau sudah kuliah. Do the best and be the best. Sampaikan salam rinduku pada yang lain. Setiap ingin melepas rindu kalian bisa mengisi komentar di blog ibu dan ibu segera ingin membaca dan membalasnya. |
|
No Komen : 1 Ardelia XII IPA2 :: 17-08-2012 22:48:24 |
| Semoga pendidikan di Indonesia semakin maju dan meningkat ya bu.. Merdeka!! |
|
:: Reply :: Ya sayang, sebagai kewajiban kita semua untuk membuat Indonesia melejit. Marilah kita bersama berupaya optimal untuk mewujudkannya. Begitu kita menyadarinya, tak usah menunggu yg lain, yok kita lakukan sekarangjuga. Insya Allah yg lain akan melihat, melakukan, dan perluasan kesadaran akan meluas, seluruh rayat bergerak bersama, laju proses kesuksesan bangsa Indonesia makin besar, masa depan yg gemilang akan mudah diraih, Insya Allah. Semangat, optimis kita bisa, Allahu Akbar. Amin. Thx sayang, doaku selalu menyertai perjuangan ibu, dan ibu tetap melayani kalian, paling tidak melalui blog ini. Do the best and be the best dear. Merdeka! |


