Hanya Sekilas Memandang
Hari ini minggu pertama bulan Juli; aku termenung mengingat kejadian tadi malam. Malam minggu malam yang panjang, namun mengapa tadi malam aku merasa waktu berjalan sangat cepat? Aku tak sanggup mengejarnya, dan pertemuanku dengannya serasa hanya sekejap. Segera kubuka laptopku dan kucari lagu kenangan yang sesuai dengan kejadian semalam. Ini dia, aku sudah menemukannya, judul lagunya "Pertemuan" dan syairnya sungguh melekat, persis dengan suara hatiku. Kubernyanyi perlahan sambil membayangkan wajah dan senyummu.
Pertemuan hari ini tak kulupakan
Pertemuan kali ini membawa kesan
Walau sejenak bertemu, hanya sekilas memandang
Cukup memberi kenangan, Indah dan syahdu
Bilakah kita kan jumpa seperti ini , saling sayang menyayangi sepenuh hati
Aku enggan tuk berpisah, walau waktu tak tercegah
Semoga kita kan berjumpa lagi…..
***
Pertemuan kita begitu singkat, kuhanya sekilas memandangmu. Namun senyum indahmu telah lekat dihatiku. Bajumu warna pink, jilbabmu merah, hand bagmu merah, dan kusempat melihat sepatumu yang merah itu. Aku saat itu memakai hem merah maron bergaris-garis putih, celanaku cokelat tua, sepatuku cokelat tua, hehehe ... kita serasi lho. Apa arti senyummu itu? Mengapa kau beri kenangan yang begitu indah kepadaku? Apakah hanya kepadaku kau berbuat seperti itu? Apakah senyummu itu sebagai isyarat aku boleh bertemu lagi denganmu? Bolehkah aku mengenalmu lebih jauh? Bilakah kita dapat berjumpa lagi? Bagaimana caraku mencarimu? Kuharus mengingat terus wajah dan senyummu itu, tak boleh aku melupakanmu, sampai kudapat berjumpa lagi denganmu.
***
"Andy ... ayo, paling lambat jam 8 kita harus sudah sampai di Sutos lho."
"Sebentar, ibu keluar duluan, ayah dan dik Dwi sudah di mobil."
Aku kebelet pipis, hehehe ... daripada nanti ngempet, susah donk.
Aku berlari menuju mobil, eh pintunya belum kukunci. Aku balik lagi mengunci pintu dan aku juga harus mengunci pagar.
***
"Dimana tempatnya Bu?" tanyaku.
"D'Kampoeng." jawab ibuku sambil menggandeng dik Dwi.
"Andy kau bawa kunci mobilnya, nanti ayahmu lupa lagi." Ibuku mengingatkanku.
"Nih kuncinya." ayah menyerahkan kunci padaku. Kumasukkan kunci itu kesaku celanaku, beres deh.
***
Kami duduk di bagian ujung sebelah kiri. Disini lumayan agak luas, ternyata ibu benar, tamu-tamu sudah banyak. Kami masing-masing langsung pesan sendiri-sendiri. Aku ingin jus afokad tanpa es, tanpa susu dan gula sedikit serta gado-gado tanpa lontong, air putih juga, yes it's enough. Waktu masuk tadi masing-masing orang diberi kartu dan saat pesan masakan, sama penjualnya kartu itu distempel. Semua orang sibuk pesan makanan dan minuman serta jajanan, kemudian melahap pesanannya. Asyik juga nih. Suara musik tak begitu terdengar. Kutengok ke kanan dan ke kiri, eh semua pada ngobrol sambil makan.
***
"Andy ayo kita segera berdiri disana untuk bersalam-salaman, agar nanti pulangnya gampang." ibu mengingatkanku lagi. Ibu ini kenapa ya, namaku saja yang selalu disebutnya, kok gak Dwi bla bla bla. Hehehe, aku senang kok, gak apa-apa sih.
"OK mom, siap."
Kami segera menuju ke arah tamu-tamu yang mulai berdiri berderet di dekat pintu.
***
Eh dik Dwi di sebelah ayah dan aku di sebelah ibu. Tangan kami terus bersalam-salaman. Ketika sebuah tangan mungil menempel ditanganku dan terasa kehangatan mengalir dijari-jariku, ibuku mengejutkanku.
"Andy kita segera pulang, ayo ..."
"Ya Bu ..." jawabku.
Sambil menengok ke ibu tak sadar kugenggam tangan itu dengan erat dan kulihat wajahnya. Ya Allah senyumnya mendebarkan hatiku, sampai jari-jarikupun bergetar. Dia pegang jari-jariku dengan tangan kirinya dan dilepaskannya tangan kanannya yang kugenggam tadi. Kedua tangannya itu halus sekali, memegang jari-jariku yang gemetar, perlahan dan diremasnya jari-jariku dengan kedua tangannya. Rasanya dari tangan itu tak hanya kehangatan yang kuperoleh, namun seperti ada arus listrik yang mengalir ke seluruh tubuhku. Kupejamkan mataku sejenak, tiba-tiba dilepaskannya tanganku yang menjadi lunglai tak berdaya.
"Oh maaf ... kau ... kau siapa?" aku berkata lirih seakan bergumam, aku tak berdaya.
Dia tersenyum lagi dan menganggukkan kepala. Kedua tangan mungilnya tadi ditariknya ke atas hingga menyentuh dagunya.
"Aku ...." dia seakan bergumam, namun aku tak dapat mendengarnya, aduh suara-suara itu ribut sekali. Akhirnya kudengar jelas salamnya.
"Assalamu'alaikum." suara itu bergetar halus.
"Wa'alaikum salam wr. wb." jawabku. Aku menatap kepergiannya dengan terpukau dan cepat sekali gerakannya, dia sudah tak kelihatan. Aku segera berlari menuju pintu keluar, eits ... aku hampir terjatuh. Ih ... malu nih; untungnya aku sudah berada di dekat pintu keluar. Bisa kena marah nih kalau kelamaan; kunci mobil kan aku yang bawa, hehehe.
***
Sesampai di rumah dan berganti pakaian, semua nonton TV. Aku merenung di depan TV. Ibu mulai mengantuk dan ayah dari tadi sudah tidur di sofa. Dik Dwi masuk ke kamar dan akhirnya semua masuk kamar, ayah ditinggal di sofa. Di kamar aku tak bisa tidur. Wajah dan senyum indahmu terus membayangiku. Apakah kau sudah tidur? Apakah kau juga mengingat pertemuan kita? Andaikan iya, kenangan apa yang kau peroleh dari perjumpaan sekejap tadi? Genggaman tanganku itukah yang mendebarkanmu? Apakah pandanganku menusuk hatimu? Oh ... indahnya kenangan ini. Akhirnya dengan tersenyum aku tertidur hingga pagi.
***
— To be continued → ♥ "Kuingin mengenalmu lebih jauh"
Komentar :
|
No Komen : 1 Sumi sumiati :: 13-08-2012 11:11:15 |
| hehe.. bagus sekali cerpennya bu,seperti halnya perasaan hati saya, saat saya bertemu dengan seorang bulan april kemarin saat kami sama-sama mengikuti OSN, ;) |
|
:: Reply :: Hehehe ... ibu jadi tersenyum-senyum membaca komentarmu, ibu dahulu kala juga mengalaminya. Cerpennya banyak yang kisah nyata, namun namanya samaran dan sedikit modifikasi, tempat, dan beberapa yang lain. Namun pokok permasalahannya hampir semua kisah nyata. Hehehe. Beberapa cerpen yang penutupnya terbuka, sengaja tidak ibu tulis, itu berlanjut sayang. Hanya judul cerpennya nanti berbeda, namun nama orang-orangnya tetap. Thx ya. |


