Ingin Rajin

Pada artikel 'Menangani Anak Malas' aku telah menceritakan bagaimana siswa bernama Gundi (nama samaran) akhirnya menyadari kekurangannya dan ingin mengubah sikapnya dari malas menjadi anak rajin. Artikel ini mengungkapkan langkah awal Gundi dalam mengubah karakternya. Aku harus terus memotivasi dia agar pembinaan karakter yang agak khusus ini tidak kandas di tengah jalan. Kurasa tentulah sulit bagi Gundi untuk mengubah dirinya sendiri tanpa perhatian dan bantuan orang lain.

Pagi ini aku berada di kelas Gundi pada jam pertama dan kedua. Doa awal telah berlangsung dan aku sudah mencatat kehadiran siswa. Pada waktu prasyarat pengetahuan yang kulakukan dengan tanya jawab, Gundi tampak serius. Wajah acuhnya mulai hilang. Alhamdulillah, kalau beberapa tahap awal dapat dilakukan olehnya, Insya Allah dia akan berhasil.

Kegiatan inti berjalan lancar. Aku mendekati Gundi saat kegiatan kelompok. Buku tulisnya baru dan bersampul cokelat. Ada buku paket kimia dan dia sedang mengutip catatan di papan. Namun ada sesuatu yang berbeda, wajahnya tampak sedih. Mengapa dia sedih? Selama aku mengajarnya, tak pernah dia bersedih. Wah ... aku harus membantunya sampai tuntas. Sedih juga merupakan faktor penghambat, bagaimana dia dapat belajar dengan baik kalau dia sering bersedih, walaupun tidak malas lagi.

Sejak awal aku sudah mengira kalau ada sesuatu yang membuat dia tertekan akhirnya menjadi anak yang malas. Sayang, ibu akan tetap melayanimu. Ibu akan berupaya membantumu, apakah sekedar motivasi atau lebih, kataku dalam hati.

"Bagaimana khabarmu?"

"Ehm ... baik Bu. Maaf Bu, saya sudah berusaha meninggalkan sifat malas jauh-jauh, tetapi masih sering gagal."

"Sabarlah, sesuatu yang telah terbiasa dalam waktu lama memang sulit dibuang. Lakukanlah secara bertahap. Langkah awalmu menentukan langkah berikutnya. Apa yang sudah kaulakukan selama 2 hari ini?"

"Saya mandi lebih bersih dari biasanya, mencuci rambut dan menyisirnya dengan rapi. Pakaian kuseterika dahulu, kamar kubersihkan dan buku-buku kuatur. Saya membuat jadwal kegiatan dan berusaha mematuhinya, membeli beberapa buku tulis."

"Bagus sekali. Langkah awalmu sudah baik, selalu lakukan yang terbaik ya."

"Bu ...."

"Ya sayang?"

"Tadi malam saya mendengarkan musik sambil tiduran, akhirnya tertidur hingga pagi. Hari ini ada 3 PR, kimia, fisika dan biologi. Biologinya tadi pagi sudah mengutip dari teman-teman. Tetapi kimia dan fisika belum mengerjakan Bu."

"Sudahlah tidak apa-apa, asal kau terus berjuang ya."

"Terima kasih Ibu tidak marah. Tetapi nanti saya kena marah lagi Bu, fisika jamnya setelah kimia."

"Sayang, kau telah berusaha dan ibu menghargai usahamu. Tentang fisika, sudah tentu kau harus terima resikonya. Hadapilah, upayakan lebih sopan."

"Bu saya minta ijin, bolehkah mengutip tugas fisika sebentar?"

"Menurut aturan, permintaanmu tidak dapat kuijinkan."

Tadi Gundi sudah mulai tersenyum, garis-garis sedih di wajahnya tertutup oleh senyumnya. Namun sekarang wajah itu tampak aneh. Apakah dia merasa kecewa dengan jawabanku? Aku kan harus mendidiknya menjadi anak yang tahu aturan. Rasa sedih yang tadi kulihat juga belum kuteliti, eh sekarang wajahnya kok agak aneh.

"Gun, mengutip pekerjaan teman itu tidak benar. Kalau ditanya kaupun juga tidak mampu menjawabnya. Iya kan? Sebaiknya kau nanti menurutlah pada guru fisikamu, perhatikan dan ikuti dengan baik. Kalau kurang mengerti segera bertanya ke teman terdekatmu."

Dia menatapku dan mata itu kembali tampak sedih, walau sekarang sudah tersenyum lagi.

"Terima kasih sarannya Bu, akan saya lakukan."

"Sayang, kalau ibu boleh tahu, mengapa kau bersedih?"

"Bagaimana ibu tahu kalau saya sedih?"

"Wajahmu nak, ibu dapat membaca dari garis-garis di wajahmu."

"Ceritanya panjang Bu, nanti saja saya ke ruang ibu, istirahat siang."

"OK sayang, do the best and take care."

"Thanks mom."

Gundy sudah berusaha untuk menjadi anak rajin, walaupun usaha itu belum optimal. Mendengarkan musik sambil tiduran, itu yang dikatakan tadi. Hal ini juga harus diubah; tadi aku belum sempat menegurnya. nanti istirahat siang dia mau ke ruangku. Semoga langkah berikutnya ini dapat berhasil. Kupikir-pikir kasihan juga anak ini. Tegakah aku membiarkannya dan meninggalkannya? Ya tak mungkinlah, serepot apapun aku dalam menanganinya, tetap harus kutuntaskan.


Komentar :

No Komen : 1
Fina Putri :: 20-03-2013 18:48:43
Terkadang, malas itu bukan berasal dari dalam diri sendiri. ADa pemicu eksternal yang menyebabkan seseorang menjadi malas, dan hal tersebut juga seringkali menjangkiti anak usia sekolah hingga mungkin nantinya terbawa dan menjadi karakter saat dewasa. Bisa jadi lingkungan belajar di sekolah yang monoton, pengajar yang kurang kreatif dalam menyampaikan materi, teman-teman yang hampir semua bersifat malas, merasa usaha seorang anak tak dihargai di lingkungan eksternal, usaha dan kerja keras tak pernah didukung, dan lain sebagainya. Oleh karena itu diperlukan dorongan-tak hanya dari diri sendiri untuk berubah, namun juga dari lingkungan eksternal seperti guru, orang tua, saudara, bahkan seorang motivator. Saya juga yakin, Bu bahwa di dunia ini tak ada orang bodoh dan gagal, semuanya hanya karena banyaknya orang malas yang tak pernah membuat perubahan (mengutip kata-kata Mario teguh). Artikelnya keren, Bu. Super sekali
:: Reply ::

Terima kasih sayang, kau hebat sekali, sukses untuk kau ya, doaku selalu menyertaimu.

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]