Faktor Van't Hoff

Selagi aku duduk termenung di dalam sebuah angkot, seorang siswa berpakaian abu-abu putih menyapaku.

"Ibu seorang guru ya?"

"Kok tebakannya bisa tepat ya, saya guru SMA. Mbaknya ini siswa SMA ya? SMA mana?"

"Ehm ibu juga tepat tebakannya, karena identitasnya mudah dikenali ya Bu."

"Hehehe iya ya, ibu memakai abu-abu dan mbak menggunakan seragam sekolah. Identitas sekolah yang tidak terbaca oleh ibu dari sini."

"Ibu mengajar apa? IPA ya Bu?"

"Mbaknya suka main tebak-tebakan ya? Benar lagi lho."

"Ibu suka humor ya? Hehehe ... kita sepertinya berjodoh Bu."

"Ibu suka caramu bicara sayang, rasanya kok seperti sudah kenal lama ya? Ya kita memang berjodoh, mbaknya kelas XI atau XII IPA kan?"

"Iya ibu benar, saya kelas XII IPA. Dari tadi ternyata kita ini sedang main tebak-tebakan ya Bu. Ibu guru kimia atau biologi?"

"Ya benar lagi nih. Ibu mengajar kimia, namun dahulu waktu kuliah mengambil minor biologi."

"Ibu nanti turun dimana?"

"Oh jauh mbak, di palang ijo."

"Wah berarti saya saat ini mendapat rezki. Saya sendiri turun di Trosobo, jadi masih jauh. Bolehkah saya bertanya tentang kimia Bu?"

"Oh dengan senang hati mbak. Silakan, apa yang ingin ditanyakan? Sifat koligatif larutan elektrolit dan non elektrolit ya? Perbedaannya?"

"Alhamdulillah, terima kasih Bu dan tebakan ibu benar lagi. Saya heran Bu, mengapa sewaktu air dan larutan garam dapur dididihkan, ternyata larutan garam lebih sulit mendidih?"

"Sebentar, ibu ingin bertanya nama mbak dahulu, namaku Bu Etna."

"Oh iya Bu, saya Aisya, namun sering dipanggil Ais."

"OK Ais, kau melakukan percobaan sendiri atau berkelompok, di rumah atau di sekolah?"

"Di rumah Bu, namun saya tidak menggunakan termometer, hanya menggunakan tanda-tanda mendidih."

"Bagus, sering melakukan praktik di rumah itu baik sekali dan menyenangkan. Bagaimana dengan jumlah zatnya?"

"Di rumah ada timbangan kue Bu."

"Baik, jadi kau sudah memiliki beberapa peralatan praktik sederhana dan mampu memfungsikan beberapa alat rumah tangga sebagai alat-alat kimia. Berarti kau sudah memiliki laboratorium di rumah, mungkin di dapur, halaman, atau dimanapun sekitar rumahmu. Nah bagaimana data pengamatanmu?"

"Air mendidih lebih dahulu sedang larutan garam lama sekali. Maaf percobaannya sangat sederhana."

"Tidak apa-apa Ais, data itu sudah cukup menjadi dasar untuk memperoleh suatu kesimpulan yang penting dalam sifat koligatif larutan. Menurutmu, mengapa adanya garam dalam air membuat air sulit mendidih?"

"Ya itu Bu yang saya bingung."

"Gunakan pikiran logismu Ais, apa artinya mendidih?"

"Molekul-molekul air berjuang untuk meninggalkan permukaan cairan menuju udara."

"Benar sayang, berpikirlah secara urut tahap demi tahap. Mengapa molekul air sulit meninggalkan permukaan cairan, ketika di sekitarnya terdapat garam?"

"Terganggu Bu, mau ke atas terhambat oleh molekul garam."

"Baik, namun garam tidak berupa molekul Ais. Garam itu rumusnya bagaimana dan jenis ikatannya apa?"

"Garam dapur itu NaCl, ikatannya ion. Oh ya, berarti dalam air terdiri atas ion-ion Na+ dan Cl- ya Bu. Larutannya tergolong elektrolit."

"Benar, nalarmu cukup bagus, namun tampaknya kau kurang latihan. Apalagi kelas XII, rajinlah berlatih sayang."

"Ya Bu."

"Apakah yang kau tanyakan itu sudah terjawab sayang?"

Dia memandangiku, menatap mataku. Kubalas tatapan matanya dan aku tersenyum memandang wajahnya yang terheran-heran itu.

"Sebentar Bu, larutan garam lebih sulit mendidih karena terhambat oleh zat terlarutnya. Jadi titik didih larutan lebih tinggi dari pelarutnya. Makin banyak jumlah zat terlarut, makin tinggi titik didihnya, begitu ya Bu."

"Hebat sayang, susunan kalimatmupun bagus. Sekarang prediksikan titik didih larutan gula dibanding larutan garam dapur dengan jumlah mol yang sama."

Dia termenung sambil mengangguk-angguk, kemudian dia membuka tas dan mengeluarkan buku tulis serta pensil. Dia mulai menulis apa yang dipikirkannya. Sesaat kemudian dia mulai bicara.

"Bu gula itu rumusnya C12H22O11. Ikatannya kovalen. Melalui uji elektrolit tergolong non elektrolit, sehingga tetap partikelnya berupa molekul. Berarti kalau dididihkan, titik didihnya lebih tinggi dari air dan lebih rendah dari larutan garam."

"Hebat, dalam beberapa menit saja dalam angkot ini kau sudah berlatih berpikir analitis dan beberapa kesimpulan sudah kau buat. Lanjutkan sayang."

"Jadi walaupun jumlah mol zat terlarut sama, namun jumlah mol partikelnya dalam larutan berbeda, karena garam terurai menjadi ion-ion sedang gula tetap berupa molekul. Jumlah ion 2 x lebih banyak dibanding jumlah molekul gula. Kenaikan titik didih garam = 2 x kenaikan titik didih gula."

"Bagus sekali. Nah kelipatan jumlah partikel itu diteliti oleh Van't Hoff, sehingga terkenal dengan faktor Van't Hoff."

"Oh pelajaran di sekolah belum sampai itu Bu."

"Nantinya akan sampai juga, namun kau sudah paham. Terus belajarnya seperti itu ya, eh Ais, kau hampir turun lho."

Dia melihat jalan dan agak terkejut. Segera dimasukkannya buku dan pensilnya, kemudian mencari uang untuk membayar angkot. Dipencetnya bel satu kali dan pak supir minggir untuk berhenti sementara. Dia tersenyum senang dan di wajahnya tampak terima kasihnya. Diciumnya tanganku.

"Ibu, terima kasih tak terhingga. Boleh meminta nomor HP ibu?"

Kukeluarkan pen dan sepotong kertas dari dalam tas dan kutulis nomor HP kemudian kuberikan padanya.

"Ini nomorku sayang, kalau memerlukan ibu bertanyalah melalui sms, ibu akan melayanimu."

Akhirnya anak itu turun dari angkot dan berdiri di pinggir jalan. Diangkatnya tangan kanannya dan dilambaikannya padaku hingga aku tak dapat melihatnya lagi. Sungguh diluar dugaan, anak itu tadi penalarannya bagus, tutur bahasanya baik, hanya kurang latihan. Mengapa dia kurang latihan? Banyak hal yang ingin kutanyakan, namun tak sempat kulakukan, karena pertanyaannya tadi harus kujawab. Aku harus membimbingnya untuk menemukan sendiri jawabannya.


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]